Rabu, 29 Juli 2026

LIDAH SETAJAM PEDANG

Karya : Teuku Husaini                  Adhyaksanews. -- --

Refleksi Qur’ani tentang Kesalehan dan Kejujuran Akhlak

Dalam kehidupan beragama, lidah sering kali menjadi alat yang paling sibuk bekerja. Ayat dilafazkan, dalil dikutip, nasihat disampaikan dengan suara lantang. Namun Al-Qur’an mengingatkan, Allah tidak menilai rupa kata dan indahnya ucapan, melainkan hati yang jujur dan amal yang nyata.

Ada orang yang lisannya basah oleh zikir, tetapi perilakunya kering dari keadilan. Ia rajin menimbang kesalahan orang lain, namun lupa bercermin pada dirinya sendiri. Padahal Allah telah mengingatkan agar manusia tidak merasa paling suci, sebab hanya Dia yang Maha Mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa.

Lidah, bila kehilangan hikmah, bisa lebih tajam dari pedang. Ia mampu melukai kehormatan, mematahkan persaudaraan, bahkan merusak makna agama itu sendiri. Ayat-ayat suci yang seharusnya menuntun manusia kepada kasih sayang, justru dijadikan alat untuk meninggikan ego dan menjatuhkan sesama.

Al-Qur’an tidak pernah mengajarkan kesalehan yang angkuh. Iman yang benar selalu melahirkan kerendahan hati, kehati-hatian dalam berbicara, serta keadilan dalam bersikap. Seruan agama diperintahkan untuk disampaikan dengan kebijaksanaan dan nasihat yang baik, bukan dengan caci dan vonis seolah diri telah bebas dari dosa.

Kesalehan sejati bukan pada panjangnya jubah, kerasnya suara, atau ramainya pujian manusia. Kesalehan hidup dalam kejujuran, amanah, dan akhlak yang konsisten—baik ketika disaksikan banyak orang maupun saat hanya Allah yang melihat.

Pada akhirnya, setiap lisan akan dimintai pertanggungjawaban. Bukan seberapa tajam kata yang diucapkan, tetapi seberapa lurus hidup yang dijalani. Sebab di hadapan Allah Yang Maha Adil, amal yang ikhlas lebih berat timbangannya daripada ribuan kata yang hampa makna. 

| Editor : Koni Setiadi