Sabtu, 12 September 2026

Musim Kemarau Berkepanjangan, Warga Pangkalan Banteng Gelar Shalat Istisqa Memohon Turunnya Hujan

Adhyaksanews. -- --  Kotawaringin Barat, Kalteng — Menghadapi musim kemarau yang berkepanjangan serta meningkatnya kekhawatiran terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), masyarakat Kecamatan Pangkalan Banteng, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, menggelar shalat istisqa sebagai bentuk ikhtiar dan doa memohon turunnya hujan.

Kegiatan tersebut diikuti oleh pimpinan sejumlah pondok pesantren yang berada di wilayah Kecamatan Pangkalan Banteng, para jamaah, kepala desa se-Kecamatan Pangkalan Banteng, para santri dan santriwati, anggota Polsek Pangkalan Banteng, anggota Koramil, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta siswa-siswi dari sejumlah sekolah tingkat SD, SMA, dan SMK.

Pelaksanaan shalat istisqa berlangsung dengan penuh kekhidmatan. Para peserta bersama-sama memanjatkan doa agar Allah SWT segera menurunkan hujan setelah wilayah Pangkalan Banteng dan sekitarnya mengalami musim kemarau yang cukup panjang.

Shalat istisqa merupakan salah satu bentuk ibadah yang dilakukan umat Islam ketika terjadi kekeringan atau kondisi minim hujan. Selain sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan serta bersama-sama mencegah terjadinya karhutla.


Kondisi kemarau yang berkepanjangan tidak hanya berdampak terhadap ketersediaan air bagi masyarakat, tetapi juga meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan dan tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla.

Keterlibatan berbagai unsur masyarakat, pemerintah desa, aparat keamanan, tokoh agama, tenaga pendidik, hingga para pelajar dalam kegiatan tersebut menunjukkan adanya semangat kebersamaan dalam menghadapi dampak musim kemarau.

Melalui shalat istisqa ini, masyarakat Pangkalan Banteng berharap hujan segera turun sehingga kondisi lingkungan kembali membaik, sumber-sumber air dapat terisi, serta risiko karhutla dapat diminimalkan.

Penulis : M. Faza | Editor : Tya