Adhyaksanews. -- -- Oleh: Dr. Nursalim, M.Pd. Ketua Afiliasi Pengajar Penulis Bahasa Sastra Budaya Seni dan Desain (APEBSKID) Provinsi Kepulauan Riau
Hari Jadi Provinsi Kepulauan Riau ke-24 pada 24 September 2026 bukan sekadar peringatan bertambahnya usia sebuah provinsi. Hari jadi adalah momentum untuk menengok kembali perjalanan sejarah, mengenang tokoh-tokoh yang telah memberikan pengabdian, sekaligus melihat bagaimana generasi hari ini meneruskan perjuangan membangun daerah. Kepri lahir dari sejarah panjang pertemuan berbagai kebudayaan, dengan Melayu sebagai salah satu akar utama dan Bugis-Makassar sebagai salah satu unsur penting dalam perjalanan sejarahnya.
Jejak Bugis-Makassar di Kepulauan Riau telah berlangsung jauh sebelum Kepri menjadi provinsi tersendiri. Hubungan Bugis dan Melayu berkembang melalui perdagangan, pemerintahan, perkawinan, agama, pendidikan, dan kebudayaan. Nama Opu Daeng Parani, Opu Daeng Marewa, Opu Daeng Celak, Opu Daeng Kemboja, dan Opu Daeng Menambun menjadi bagian penting dari sejarah perjumpaan Bugis-Melayu di kawasan Riau-Lingga.
Perjalanan tersebut kemudian melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Raja Haji Fisabilillah dan Raja Ali Haji. Raja Haji Fisabilillah dikenang sebagai Yang Dipertuan Muda Riau IV sekaligus tokoh perjuangan melawan VOC. Sementara Raja Ali Haji memberikan sumbangan luar biasa terhadap perkembangan bahasa, sastra, sejarah, dan pemikiran Melayu. Karya seperti Gurindam Dua Belas, Tuhfat al-Nafis, dan Kitab Pengetahuan Bahasa menjadi warisan intelektual yang hingga kini tetap memiliki nilai penting bagi dunia Melayu.
Memasuki era Kepulauan Riau modern, jejak putra-putri berdarah Sulawesi Selatan juga dapat ditemukan dalam berbagai bidang. Dr. Andi Agung, S.E., M.M., misalnya, pernah dan masih dikenal dalam perjalanan birokrasi pendidikan Kepri sebagai Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau. Kehadirannya dalam bidang pendidikan memperlihatkan bahwa pembangunan Kepri juga ditopang oleh sumber daya manusia dari berbagai latar belakang budaya.
Tokoh lainnya adalah Drs. H. Arifin Nasir, M.Si., yang pernah dipercaya sebagai Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau dan kemudian berkiprah dalam bidang kebudayaan. Sementara Dr. H. Ahmad Dahlan, M.Si., putra Selayar, Sulawesi Selatan, pernah memimpin Batam sebagai Wali Kota Batam selama dua periode, 2006–2016. Nama-nama tersebut menunjukkan bahwa masyarakat asal Sulawesi Selatan tidak hanya hadir sebagai bagian dari masyarakat perantauan, tetapi juga mengambil bagian dalam pembangunan pemerintahan dan pelayanan publik di Kepri.
Dalam perjalanan Batam dan Kepri, kontribusi masyarakat Bugis-Makassar juga hadir melalui dunia seni dan sastra. Syamsuddin Jafar, yang dikenal sebagai pemantun, merupakan salah satu sosok yang turut membawa tradisi pantun dan kebudayaan Melayu Batam ke berbagai kegiatan dan panggung yang lebih luas. Kiprah pemantun seperti Syamsuddin Jafar menjadi pengingat bahwa menjaga kebudayaan tidak hanya dilakukan melalui lembaga pemerintahan, tetapi juga melalui seni, bahasa, sastra, dan tradisi lisan.
Selain itu, banyak putra-putri Batam dan Kepri yang membawa nama daerah melalui berbagai profesi. Mereka hadir sebagai guru, dosen, ulama, qari dan qariah, sastrawan, seniman, pemantun, atlet, birokrat, pengusaha, wartawan, tenaga kesehatan, peneliti, aktivis sosial, dan berbagai profesi lainnya. Sebagian tampil di tingkat nasional, sebagian lainnya bekerja dalam kesunyian pengabdian di daerah. Namun, semuanya memiliki arti dalam membangun wajah Kepulauan Riau.
Dalam konteks kekinian, salah satu sosok yang juga menarik ditempatkan dalam mata rantai kebudayaan tersebut adalah Dr. Nursalim, M.Pd., yang sering disebut Nursalim Daeng Tinggi. Ia berasal dari Balangpasui, Desa Tolo, Kecamatan Kelara, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Nursalim Daeng Tinggi berasal dari keturunan Sapayya Gowa, tepatnya merupakan cucu dari Karaeng Tamassele. Akar budaya tersebut menjadi bagian dari perjalanan identitas kulturalnya dalam mengabdikan diri di bidang pendidikan, bahasa, sastra, dan kebudayaan di Kepulauan Riau.
Sebagai pendidik, dosen, penulis, dan sastrawan, Nursalim Daeng Tinggi berusaha menempatkan bahasa dan sastra sebagai jembatan antara sejarah dan kehidupan masa kini. Baginya, akar Bugis-Makassar bukan alasan untuk menjauh dari kebudayaan Melayu Kepri. Sebaliknya, sejarah panjang pertemuan Bugis dan Melayu justru menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan, memperkaya kebudayaan, dan membangun identitas Kepri yang terbuka serta berakar pada sejarah.
Pengabdian tersebut juga tercermin dalam keterlibatannya pada MTQ XII Provinsi Kepulauan Riau di Tanjungpinang sebagai Dewan Hakim serta keikutsertaannya dalam MTQ VIII KORPRI Nasional 2026 di Makassar-Pangkep melalui cabang cipta dan baca puisi. Ketika seorang putra Kepri hadir di panggung nasional dengan membawa karya sastra, sesungguhnya yang dibawa bukan hanya nama pribadi, tetapi juga nama daerah, dunia pendidikan, dan kebudayaan Kepulauan Riau.
Di sinilah makna penting Hari Jadi Kepri ke-24. Kita perlu memperluas cara pandang terhadap sejarah. Sejarah Kepri tidak hanya dibangun oleh pejabat dan tokoh politik, tetapi juga oleh guru yang mendidik, sastrawan yang menulis, pemantun yang menjaga tradisi, ulama yang membina umat, atlet yang berprestasi, seniman yang berkarya, pengusaha yang membuka lapangan pekerjaan, serta masyarakat yang setiap hari memberikan pengabdian terbaiknya.
Kepri juga membutuhkan dokumentasi sejarah tokoh-tokoh daerah secara lebih serius. Nama-nama yang pernah membawa Batam dan Kepri ke tingkat nasional perlu dihimpun dalam sebuah dokumentasi kebudayaan dan sejarah daerah. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya mengenal nama-nama besar dari masa lalu, tetapi juga mengetahui bahwa di sekitar mereka terdapat banyak manusia yang telah mengharumkan nama Batam dan Kepulauan Riau melalui bidang masing-masing.
Pada akhirnya, Hari Jadi Kepri ke-24 adalah momentum untuk merawat ingatan dan meneruskan pengabdian. Jejak Bugis-Makassar, Melayu, Jawa, Minangkabau, Batak, Tionghoa, dan berbagai kelompok masyarakat lainnya telah menjadi bagian dari mozaik Kepulauan Riau. Perbedaan latar belakang tidak menghapus identitas masing-masing, tetapi dapat menjadi kekuatan bersama dalam membangun daerah.
Selamat Hari Jadi Provinsi Kepulauan Riau ke-24. Dua puluh empat tahun sebagai provinsi adalah perjalanan administratif yang relatif muda, tetapi Kepri memiliki sejarah kebudayaan yang jauh lebih tua. Tugas kita sekarang adalah memastikan sejarah itu tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Ia harus hidup dalam pendidikan, bahasa, sastra, kebudayaan, prestasi, dan pengabdian generasi hari ini. Dari sejarah kita belajar, dari kebudayaan kita berakar, dan melalui pengabdian kita membangun masa depan Kepulauan Riau.(*)
| Editor : Koni Setiadi