Jumat, 24 April 2026

Dana Hanyut Di Saluran Mati, Proyek Drainase Mangkrak, Warga Atep Oki Meledak!

Adhyaksanews. -- -- Minahasa. Desa Atep Oki yang tenang kini berubah menjadi ladang perlawanan. Aroma kecurigaan menyelimuti udara ketika proyek drainase tahap pertama sepanjang 67 meter yang menelan anggaran Rp32.833.000 mendadak terhenti tanpa kejelasan. Bukan hanya air yang tak mengalir—kepercayaan warga pun ikut tersumbat.

Jonni, Wakil Ketua BPD Desa Atep Oki, menjadi suara pertama yang membongkar kebisuan ini. “Apa yang kami lihat bukan pembangunan, tapi pembiaran. Ini bukan janji yang ditepati, tapi omong kosong yang dibiarkan membusuk,” tegasnya saat ditemui awak media, Senin (30/06/2025).


Janji perbaikan drainase yang sempat diumbar, kini dianggap warga sebagai ilusi belaka. Kegeraman pun meluap. Mereka tak lagi bisa ditenangkan oleh alasan atau penundaan.

“Kami merasa ditipu mentah-mentah,” ujar salah seorang warga dengan nada yang tak bisa disangkal lagi: kecewa dan marah.

Warga tak tinggal diam. Mereka mengancam akan membawa persoalan ini ke meja hukum jika tidak ada pertanggungjawaban dari Kepala Desa Jeril Lompoliu, yang hingga berita ini diturunkan, enggan memberi komentar meski telah dihubungi via telepon seluler pada hari yang sama.

Diamnya sang kepala desa menambah bara di hati masyarakat. Dugaan penyalahgunaan dana mulai mencuat dan gelombang ketidakpercayaan kian membesar.


Kini, masyarakat Atep Oki bersatu dalam satu tekad: kebenaran harus dibongkar, keadilan harus ditegakkan. Mereka tidak lagi meminta—mereka menuntut.

Desa Atep Oki tengah berada di persimpangan: antara perubahan atau kehancuran kepercayaan terhadap pemimpinnya sendiri. Satu pertanyaan menggantung di langit Lembean Timur: Apakah Jeril Lompoliu akan muncul membawa jawaban, atau hilang ditelan gelombang protes rakyatnya sendiri?

Penulis : Aril Moningka | Editor : Tya