Adhyaksanews. -- --Arman duduk di bangku kayu tua di tepi danau, menatap air yang memantulkan semburat jingga senja. Angin sore menyapu wajahnya, tapi tak mampu mengusir hampa yang menyesakkan dada. Sejak Lina pergi, setiap senja selalu datang membawa kesedihan yang tak tertahankan.
Ia menarik napas panjang, memejamkan mata, dan membiarkan kenangan itu menghantui. Lina, dengan senyumannya yang selalu bisa menenangkan gelisah hatinya, kini hanyalah bayangan yang semakin menjauh.
“Kenapa kau tinggalkan aku begitu saja, Lina?” bisiknya, suaranya nyaris tenggelam di antara riak air dan desir angin. “Apakah aku tak cukup untukmu?”
Arman teringat malam terakhir mereka bersama. Lina duduk di sofa kecil di apartemennya, memegang tangan Arman dengan lembut. Matanya yang biasanya cerah kini memancarkan kesedihan. “Maaf, Arman… aku harus pergi. Aku tak ingin kau ikut terseret dalam hidupku yang penuh luka,” katanya pelan, seakan takut kata-katanya akan menghancurkan hatinya sepenuhnya.
Pukulannya lebih keras daripada tamparan fisik manapun. Bagaimana mungkin seseorang yang dia cintai sepenuh hati memilih pergi begitu saja? Bagaimana mungkin senyuman yang selalu memberinya ketenangan kini menjadi penanda kepergian yang tak bisa ditawar?
Arman berjalan perlahan di tepi danau, membiarkan air matanya jatuh bebas. Ia mengingat tawa Lina yang hangat, pelukan yang menenangkan, suara lembut yang selalu menyingkirkan gelisahnya. Semua itu kini berubah menjadi pedih yang menusuk hatinya tanpa ampun.
Ia berhenti di bawah pohon tua, tempat mereka dulu sering duduk bersama. Arman menundukkan kepala, membiarkan kenangan itu menumpuk seperti hujan deras di dalam dada. Ia bisa merasakan sentuhan tangan Lina di tangannya, wangi rambutnya yang khas, dan suara lembutnya yang pernah menenangkan hatinya. Tapi kenyataan yang pahit tetap menghantamnya: Lina pergi, meninggalkan ruang kosong yang tak mungkin terisi.
“Apakah aku salah, Lina? Apakah aku kurang baik untukmu?” tanyanya pada angin. Suaranya hampa, namun kata-kata itu seperti mencari jawaban dari semesta yang diam. Tak ada jawaban, hanya riak air dan desir daun yang menjawab kesepian hatinya.
Arman jatuh terduduk, lututnya menekuk, kepala tersandar di tangan. Ia teringat malam-malam yang mereka habiskan bersama, bercakap tentang masa depan, tentang mimpi-mimpi sederhana yang ingin diwujudkan bersama. Kini semua itu hanyalah serpihan yang tajam, menyayat hati tanpa ampun.
Namun di balik kepedihan itu, muncul kesadaran. Meskipun hatinya hancur, ada satu cahaya yang tetap ada—kenangan akan cinta mereka. Kenangan itu, seberat apapun rasa sakitnya, tetap memberi arti. Arman menutup mata dan tersenyum tipis, meski air matanya masih menetes.
Ia berdiri perlahan, menatap danau yang kini mulai gelap, memantulkan langit senja yang memudar. Senja telah pergi, tapi cahaya kecil di hatinya tetap ada. Arman tahu, perjalanan untuk menyembuhkan diri tidak akan mudah. Senja-senja berikutnya akan tetap membawa kesedihan, tapi ia berjanji pada dirinya sendiri untuk terus berjalan.
Di jalan pulang, ia merasakan angin malam yang sejuk membelai wajahnya dengan lembut. Ia menatap bintang-bintang yang mulai muncul di langit gelap, dan untuk pertama kalinya sejak Lina pergi, hatinya terasa sedikit ringan. Lina akan selalu menjadi bagian dari dirinya. Dan meski hatinya masih sakit, ia tahu, hidup harus terus berjalan.
Arman menatap jauh ke arah langit yang mulai gelap. Ia tersenyum tipis, membiarkan hati yang terluka perlahan menemukan cahaya baru. Sebuah cahaya yang bukan Lina, tapi harapan. Harapan bahwa suatu saat nanti, senja yang baru akan membawa kebahagiaan yang baru. Dan meski kehilangan selalu meninggalkan luka, di ujung senja, masih ada cahaya yang menunggu untuk ditemukan.
| Editor : Koni Setiadi