Rabu, 23 September 2026

Alih Fungsi Hutan Picu Lahan Kritis Dan Banjir, BPDAS Tondano Genjot Rehabilitasi Hutan Dan Lahan Di Sulut

Manado, Adhyaksanews. -- -- fungsi hutan dan lahan yang terjadi secara masif dalam beberapa tahun terakhir telah memberikan dampak serius terhadap ekosistem lingkungan, khususnya di daerah aliran sungai (DAS). Perubahan kawasan hutan menjadi lahan pertanian tanpa menerapkan kaidah konservasi tanah terbukti menurunkan daya serap air, meningkatkan limpasan permukaan (run-off), serta memicu bencana banjir dan tanah longsor.

Kondisi tersebut juga berdampak pada penurunan kualitas air, terganggunya siklus hidrologi, meningkatnya erosi, hingga terancamnya keanekaragaman hayati dan sumber penghidupan masyarakat. Akibatnya, hamparan lahan kritis kini banyak dijumpai di berbagai DAS di wilayah Provinsi Sulawesi Utara.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor 406 Tahun 2025 tentang Penetapan Lahan Kritis Nasional, Provinsi Sulawesi Utara tercatat memiliki lahan kritis seluas 355.068 hektare. Dari jumlah tersebut, seluas 199.662 hektare berada di dalam kawasan hutan, sementara 235.406 hektare berada di luar kawasan hutan.

Fenomena banjir bandang yang baru-baru ini melanda sejumlah wilayah di Sumatera juga diduga kuat tidak hanya disebabkan oleh tingginya intensitas curah hujan, tetapi turut dipengaruhi oleh pemanfaatan hutan dan lahan yang mengabaikan aspek kelestarian lingkungan.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Kementerian Kehutanan melalui Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Tondano terus menggencarkan berbagai program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL). Program tersebut meliputi RHL berbasis agroforestry, Kebun Bibit Rakyat (KBR), imbuhan mata air, serta program pembagian bibit gratis kepada masyarakat.

Program bibit gratis ini menyediakan berbagai jenis tanaman produktif dan nonproduktif, dengan persyaratan yang mudah, yakni cukup membawa KTP dan mengajukan proposal. Program ini dilaksanakan sepanjang tahun dengan tujuan mendukung diversifikasi penghasilan petani sekaligus mempercepat pemulihan lingkungan.

Jenis bibit yang disediakan antara lain tanaman buah-buahan seperti alpukat, durian, rambutan, nangka, aren, sirsak, duku, dan kopi. Selain itu, tersedia pula tanaman kayu-kayuan seperti sengon, asam jawa, nyatoh, mahoni, tabebuya, hingga tanaman hias seperti pucuk merah.

Bibit-bibit tersebut dapat diperoleh di Persemaian Modern Likupang Batu Putih di Kota Bitung, Persemaian Permanen Kima di Kota Manado, serta Persemaian Permanen Torout di Kabupaten Bolaang Mongondow. Masyarakat cukup datang langsung ke lokasi persemaian dengan membawa KTP dan dapat membawa pulang hingga 25 batang bibit secara gratis.

Kepala BPDAS Tondano, Bambang Hendro Juwono, S.Hut., M.Sc, menegaskan bahwa program ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian hutan dan lahan, sekaligus menjadi langkah nyata dalam menekan laju degradasi lingkungan di Sulawesi Utara. (Debby) 

| Editor : Koni Setiadi