Sumsel, Adhyaksanews. -- --Sistem Penerimaan Siswa Baru Provinsi Sumatera Selatan tuai kecaman dari aktivis senior Sumsel, Feri Kurniawan.
Kecaman tersebut dilontarkan, karena sistem penerimaan siswa baru di Provinsi Sumatera Selatan terkesan diskriminatif dan berpotensi melanggar Hak Azazi Manusia sehingga menciptakan kesenjangan pendidikan.
Menurut Feri Kurniawan, pembatasan batas bawah nilai boleh ikut seleksi dengan score tinggi jelas melanggar undang - undang dasar.
"Thomas Alva Edison Edison dianggap sebagai murid yang sering tertinggal, tidak pintar, dan dianggap tak berbakat sehingga dikeluarkan dari sekolah"
"Namun Alva Edison balikkan fakta nilai rendah di just bodoh dengan menjadi penemu besar dunia berupa lampu listrik dan tehnologi awal digital", ujar Feri Kurniawan pegiat anti korupsi Sumsel, dalam siaran persnya, Rabu, 17 Juni 2026.
Feri mengatakan, Disdik Prov Sumsel seolah menjadi Tuhan dengan menyatakan nilai rendah itu bodoh dan tidak bisa atau tidak layak ikut seleksi".
"Banyak faktor penyebab nilai raport murid rendah dan dikategorikan bodoh oleh Dinas Pendidikan namun faktor utamanya adalah ekonomi", tegas Feri.
Lanjut Feri, nilai rendah hampir 80% dialami oleh siswa dengan ekonomi keluarga pas - pasan dan cenderung sangat miskin.
"Membatasi nilai tinggi untuk bisa ikut test dan membagi nilai test dengan nilai raport siswa sangatlah zolim dan keji", kembali ditegaskan Feri.
"Apa sebenarnya yang ada dibenak Kadisdik Sumsel atau Pemprov Sumsel sehingga potensi anak dianggap berdasarkan nilai raport", ungkap Feri.
"Mumpung belum test akademik pembatasan grade nilai tinggi segera dibatalkan demi menjaga marwah undang - undang dasar dan perintah agama", pungkas Feri Kurniawan.
Belum ada pihak yang bisa dimintai tanggapan atas pernyataan Aktivis senior di Sumsel itu.(BS)
| Editor : Koni Setiadi