Selasa, 21 April 2026

Yulianus Heluka Desak Pemerintah Nduga Prioritaskan Kemanusiaan: "Duduk Di Honai, Bicara Selamatkan Rakyat Dulu"

Wamena,  Adhyaksanews. -- --Salah satu tokoh muda Kabupaten Nduga, Yulianus Heluka, SH, mendesak Pemerintah Kabupaten Nduga dalam hal ini Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Nduga dan Ketua DPRK sementara untuk segera menggelar pertemuan bersama para tokoh masyarakat, gereja, dan intelektual guna membahas krisis kemanusiaan yang terus memburuk di wilayah tersebut.

Dalam pernyataannya yang diterima redaksi, Heluka menyampaikan keprihatinan mendalam atas kondisi masyarakat Nduga yang menurutnya mengalami penderitaan serius. Ia menilai pemerintah saat ini lebih sibuk mengurus pekerjaan administratif ketimbang menyentuh persoalan kemanusiaan yang makin hari kian mengkhawatirkan.

"Segera duduk kembali di honai, lalu bicara soal kemanusiaan dulu, baru sibuk dengan pekerjaan yang lain. Jangan pura-pura sibuk dan mengabaikan rakyat yang sedang menderita," tegas Heluka.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa angka kematian masyarakat Nduga terus meningkat setiap harinya. Dalam sehari, kata dia, bisa lebih dari satu hingga lima orang meninggal dunia.

"Rakyat Nduga makin hari makin habis. Kematian terjadi di mana-mana. Ini bukan lagi soal politik atau jabatan, tapi soal nyawa manusia," ujar Yulianus.

Heluka mendesak agar semua pihak baik pemerintah daerah, tokoh gereja, hingga para intelektual asal Nduga segera bersatu dan membentuk forum bersama untuk menyelamatkan masyarakat dari situasi darurat ini.

 "Saya minta pemerintah, tokoh gereja, dan para intelektual Kabupaten Nduga duduk kembali jadi satu. Kita harus selamatkan rakyat Nduga. Ini panggilan kemanusiaan," katanya dengan nada serius.

Pernyataan Yulianus Heluka ini diharapkan dapat menggugah kesadaran para pemangku kepentingan di Kabupaten Nduga untuk kembali menempatkan kepentingan rakyat sebagai prioritas utama di tengah berbagai dinamika politik dan pemerintahan yang terjadi.

Penulis: Yulianus Heluka

Editor: Marinus Heluka

Penulis : Yulianus Heluka | Editor : Marinus Heluka