Kamis, 16 April 2026

Akankah Bupati Sitaro Tergilas Di Balik Seng Bantuan Gunung Ruang ?

Sitaro,  Adhyaksanews. -- --Aktivis Niraya Sarry terang-terangan menyebut semua pihak kini berada dalam zona lampu merah. Setelah dicecar 82 pertanyaan dalam dua kali pemeriksaan maraton, posisi Bupati Sitaro kian terjepit.

Ironisnya, di tengah isak tangis pengungsi Gunung Ruang, tim ahli Kejati justru menemukan jejak intervensi pada spesifikasi seng bantuan. 

Sementara penyidik sibuk memburu aktor intelektual, publik disuguhi pemandangan kontras: pembangunan rumah pribadi yang diduga milik sang kepala daerah yang berdiri tegak di tengah puing bencana. Sebagai pemegang tongkat komando, bupati tidak bisa cuci tangan; aturan hukum sudah mengepung, dan "surprise" besar hanya tinggal menunggu waktu.

Skandal ini bukan sekadar urusan administrasi, melainkan ujian moral bagi sang pemegang kewenangan. 

Jika terbukti, ini adalah pengkhianatan terbesar atas nama bencana kemanusian

"Jangan pikir pemeriksaan dua kali itu hanya formalitas administrasi. Kejati sedang merajut simpul jerat yang sangat kuat. Ini soal kemanusiaan! Saat rakyat menangis di bawah tenda darurat, ada yang sibuk memoles dinding rumah pribadi. Pembangunan di depan Gunung Ruang itu adalah monumen ketidakpedulian. Ingat, bupati adalah pemegang komando. Dalam hukum, komandan tidak bisa bilang 'saya tidak tahu' saat anak buah atau orang kepercayaannya bermain di atas penderitaan rakyat. Lampu merah sudah menyala, tinggal tunggu siapa yang akan 'tertabrak' kejutan besar beberapa minggu ke depan.

Tim ahli Kejati tidak turun ke toko-toko dan ke masyarakat hanya untuk jalan-jalan. Mereka mengambil sampel seng, mereka mengukur ketebalannya, mereka mencatat setiap senti intervensi kekuasaan di sana. Kami punya data, dan jaksa punya bukti. Publik harus tahu, ada aktor di balik layar yang merasa aman di balik jabatan. Tapi di mata hukum, jabatan itu bukan bukan tameng. Siapapun yang berani 'makan' hak korban bencana erupsi, bersiaplah. Kejutan Adhyaksa kali ini tidak akan memberi ruang untuk lari.

Lucu sekali, di tengah debu vulkanik yang masih terasa, justru bangunan pribadi yang tumbuh subur, bukan pemulihan ekonomi rakyat. Orang kepercayaan bupati pamer pembangunan di media sosial ? 

Itu namanya menantang rasa keadilan publik. Saya peringatkan, jangan main-main dengan doa orang susah. Jaksa sudah maraton, bukti sudah dikunci. Titik rawan sudah dipetakan, dan saya pastikan minggu-minggu ke depan akan menjadi sejarah kelam bagi mereka yang menyalahgunakan kewenangan di Sitaro.(D.A & Tim) 

| Editor : Koni Setiadi