Sabtu, 18 April 2026

Gerakan Aktivis Mahasiswa (GAM) MENDESAK JAMINAN KEAMANAN AKTIVIS, PASCA TERJADINYA KASUS PENYIRAMAN AIR KERAS KEPADA ANDRIE YUNUS

Palopo Sulsel,  Adhyaksanews. -- --Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Komando Wilayah Gerakan Aktivis Mahasiswa Luwu Raya (KOMWIL GAM LUWU RAYA) menggelar aksi Demonstrasi trmpatnya di, Pattimura No. 16 Kelurahan Batupasi, Kecamatan Wara Utara, Kota Palopo, Sulawesi Selatan. Markas Komandan Kodim/1403 pada: 17/04/2026.

Dalam aksi tersebut, massa aksi mahasiswa bergantian berorasi dan membakar ban bekas sekaligus membentangkan spanduk putih bertuliskan “Mendesak Dandim Kota Palopo untuk memberikan statement yang menjamin tidak terjadinya kasus seperti andrie yunus di wilayah Luwu Raya. 

Para demonstran melakukan aksi unjuk rasa sebagai sikap Solidaritas terkait berbagai upaya pembungkaman berupa tindakan represif dan teror yang di tujukan kepada para aktivis yang juga mengawal pengusutan kasus teror berupa penyiraman air keras yang menimpa aktivis Kontras Andrie Yunus.

Jenderal lapangan, fadel mengatakan bahwa aksi tersebut merupakan sikap Solidaritas terhadap kasus tersebut yang merupakan dugaan penganiayaan berencana dan pelanggaran terhadap amanat UU No.39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. 

“Ini merupakan perbuatan yang mengancam nilai-nilai Demokrasi. Jika kebebasan berekspresi selalu di represif maka marwah Demokrasi akan terancam dan kembali ke sejarah kelam yang terjadi di masa Orde Baru”. Tegas Fadel. 

Kami juga menentang segala bentuk upaya pembungkaman aktivis dan kejahatan Hak Asasi Manusia. Yang kemudian tidak terlepas daripada dugaan teror dan intimidasi terhadap pihak yang menunjukkan sikap solidaritas terhadap Andrie Yunus yang tentunya sangat memprihatinkan terhadap masa depan demokrasi.

Selain itu panglima GAM Luwu raya, Ahmad Hanifulla juga menegaskan bahwa penyiraman air keras terhadap aktivis kontraS, ini adalah salah satu bentuk pembungkaman terhadap demokrasi di Indonesia. 

"Peristiwa ini bukan sekedar insiden biasa. Ini adalah pola, ini adalah tanda bahwa ruang demokrasi kita disempitkan secata sistemis. Ketika aktivis di teror, ketika keluarga dijadikan sasaran, maka sesungguhnya yang sedang diserang adalah kebebasan sipil seluruh rakyat Indonesia," tegas Ahmad Hanifulla.(*) 

| Editor : Koni Setiadi