Selasa, 21 April 2026

Festival Reggae Wamena 2025: Suara Perdamaian Dari Papua Pegunungan

Wamena,  Adhyaksanews. -- --Suasana meriah mewarnai Menara Salib Wamena saat dentuman musik reggae mengalun menyambut ratusan masyarakat dari delapan kabupaten cakupan Provinsi Papua Pegunungan. 

Komunitas Rasta Kribo, dengan dukungan penuh dari Nies Word Foundation, sukses menyelenggarakan Festival Reggae Wamena 2025 sebagai ajang hiburan sekaligus ruang ekspresi seni dan budaya lokal.

Festival yang berlangsung selama dua hari, 18–19 Oktober 2025 ini, menjadi agenda tahunan yang dinanti oleh masyarakat. Tak hanya sekadar hiburan, kegiatan ini juga menjadi wadah pembinaan dan pemberdayaan musisi lokal dari wilayah Papua Pegunungan.

Manajer Nies Word Foundation, Nies Tabuni, menyampaikan bahwa festival ini merupakan komitmen bersama untuk menggali potensi anak-anak muda Papua di berbagai aspek, terutama seni musik.

 “Dalam event ini kami menghadirkan seniman-seniman dan musisi lokal dari delapan kabupaten di Provinsi Papua Pegunungan untuk menghibur masyarakat agar tetap berpikir positif dan terus berkarya dalam berbagai bidang,” ujar Tabuni kepada wartawan.

Lebih dari sekadar panggung musik, festival ini juga menjadi bentuk dukungan nyata terhadap kehidupan para pelaku seni lokal. Tabuni menambahkan bahwa kegiatan ini secara khusus mengakomodasi para musisi lokal agar tetap eksis dan mendapat ruang tampil di tengah masyarakat.

 “Kami ingin memastikan bahwa musisi lokal terus hidup dan tetap bisa menghibur masyarakatnya. Ini bagian dari upaya menjaga eksistensi mereka,” tambahnya.

Tak hanya itu, nuansa perdamaian menjadi benang merah sepanjang festival. Melalui lirik-lirik penuh pesan damai dan semangat persatuan, para musisi menyuarakan harapan agar angka kriminalitas di wilayah pegunungan dapat ditekan melalui pendekatan budaya dan seni.

“Festival ini juga menyuarakan perdamaian. Kami percaya, lewat kegiatan positif seperti ini, angka kriminalitas di Papua Pegunungan bisa berkurang,” ujar Tabuni.

Mengenai pendanaan, Tabuni menjelaskan bahwa festival ini terselenggara berkat sumbangan sukarela dari komunitas seniman, pelaku UMKM lokal, serta dukungan dari Pemerintah Kabupaten Jayawijaya.

“Sumber dana berasal dari gotong royong komunitas – para seniman, pelaku UMKM, serta dibantu juga oleh Bupati Jayawijaya yang turut hadir dan memberikan sambutan. Karena itu, kegiatan ini bisa berjalan lancar selama dua hari,” tuturnya.

Sebagai penutup, Tabuni mengajak seluruh masyarakat Papua Pegunungan untuk terus menjaga harmoni dan kedamaian melalui jalur seni dan budaya.

 “Harapannya kita tetap jaga perdamaian Papua Pegunungan lewat seni,” pungkasnya.

Penulis:Marinus Heluka

| Editor : Koni Setiadi