Minut, Adhyaksanews. -- --Aktivitas sebuah gudang solar yang diduga ilegal di Desa Tontalete, Kecamatan Kema, Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Sulawesi Utara, kembali menuai sorotan. Gudang tersebut disinyalir masih beroperasi tanpa hambatan berarti, sehingga memunculkan kesan kebal terhadap hukum.
Berdasarkan hasil pemantauan awak media di lokasi, terlihat adanya seorang keluar dari area gudang. Namun, akses menuju bagian dalam gudang terpantau tertutup rapat dengan pintu gerbang yang selalu dalam kondisi terkunci. Kondisi ini dinilai sebagai upaya membatasi pantauan publik maupun insan pers terhadap aktivitas di dalamnya.
Kecurigaan semakin menguat ketika sebuah kendaraan roda enam terpantau berada di sekitar lokasi. Saat awak media mencoba mendekat, kendaraan tersebut diduga langsung menjauh dan memilih parkir di lokasi yang lebih jauh dari gudang. Situasi ini menimbulkan dugaan adanya aktivitas yang sengaja disembunyikan.
Ironisnya, hingga saat ini belum terlihat adanya tindakan tegas dari aparat penegak hukum. Ketiadaan langkah konkret tersebut justru memperkuat persepsi di tengah masyarakat bahwa praktik yang diduga ilegal ini seolah dibiarkan berlangsung. Jika benar terjadi, kondisi ini tidak hanya berpotensi merugikan negara dari sisi distribusi dan subsidi BBM, tetapi juga berdampak pada masyarakat luas yang berhak mendapatkan BBM sesuai aturan.
Publik pun mulai mempertanyakan keseriusan aparat dalam menindak dugaan pelanggaran ini. Pasalnya, jika praktik semacam ini terus berlangsung tanpa penindakan, maka kepercayaan terhadap penegakan hukum bisa semakin tergerus.
Situasi ini dinilai bertolak belakang dengan komitmen Listyo Sigit Prabowo yang berulang kali menegaskan pentingnya penegakan hukum tanpa pandang bulu, khususnya terhadap penyalahgunaan BBM subsidi. Oleh karena itu, publik berharap adanya langkah cepat dan transparan dari aparat terkait untuk mengusut tuntas dugaan aktivitas gudang solar ilegal di Tontalete.
Jika tidak segera ditindak, bukan tidak mungkin praktik serupa akan terus berkembang dan semakin sulit dikendalikan.(Tim)
| Editor : Koni Setiadi