BiontongAdhyaksanews. -- --Proyek pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang berlokasi di Dusun IV, Desa Biontong Induk, Kecamatan Bolangitang Timur, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara), Sulawesi Utara, menuai sorotan tajam. Pasalnya, proyek yang dibangun sejak tahun 2021 itu hingga kini tak kunjung memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.
Proyek SPAM yang menelan anggaran lebih dari Rp1 miliar ini bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun anggaran 2021. Namun, bangunan yang dibangun dengan dana besar tersebut kini terbengkalai dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Kondisi ini memunculkan dugaan kuat bahwa proyek tersebut merugikan keuangan negara.
Saat awak media mendatangi lokasi pada Minggu, 29 Juni 2025, terlihat bangunan SPAM dalam keadaan memprihatinkan. Tidak ada perubahan signifikan sejak kunjungan-kunjungan sebelumnya. Bahkan, ditemukan keretakan pada bagian pondasi bawah bangunan yang cukup mengkhawatirkan warga. Letak bangunan yang tidak jauh dari permukiman juga menimbulkan rasa takut, karena dikhawatirkan berpotensi membahayakan keselamatan masyarakat.
Warga sekitar saat dikonfirmasi awak media menyatakan bahwa hanya pada saat selesai dibangun pada Tahun 2021 saat di uji berfungsi, dan setelah itu SPAM tersebut tidak berfungs hingga saat ini Tahun 2025. Selain itu, posisi bangunan yang berdekatan dengan jamban warga, turut disoroti bahkan berpotensi pencemaran air dan kesehatan lingkungan.
Sangadi/ kepala Desa Alfian Jen Pontoh, saat dikonfirmasi awak media terkait SPAM terbengkalai dan tidak berfungsi. "Menurut aparat waktu Sangadi kemarin sebelum kita, katanya so serahkan ke Desa. Cuma di waktu dikembalikan diserahkan ke Desa peruntukan anggaran itu di Dana Desa maupun ADD tidak ada, begitu diserahkan ke Desa untuk anggaran kitorang pembayaran lampu itu belum boleh Torang mo tata, coba angkat ke atas tapi belum ada peruntukan ke situ jadi kita juga bingung, kalau masalah Lampu ada, ada bagus. Persoalan tidak aktif ke Desa Pemanfaatan cuma itu, tidak ada peruntukan anggaran ke situ.". Terang Sangadi dengan dialeg Manado.
Penulis : Atar | Editor : Koni Setiadi