SENYUM DIUJUNG SENJA
Penulis: TEUKU HUSAINI
Adhyaksanews. -- --Di kampung kecil yang dikelilingi sawah dan sungai berair keruh itu, tinggal seorang lelaki bernama Rasyid. Usianya hampir menyentuh kepala lima, rambutnya mulai memutih di pelipis, namun senyumnya masih utuh—senyum yang sering disalahartikan orang sebagai tanda hidup tanpa beban. Padahal, hanya Rasyid yang tahu, senyum itu adalah cara paling sunyi untuk menyembunyikan luka.
Sore itu, kampung ramai. Anak-anak berlarian membawa balon, ibu-ibu sibuk menata hidangan, dan pengeras suara masjid memutar shalawat lembut. Hari itu Rasyid dinobatkan sebagai tokoh masyarakat teladan. Sebuah kehormatan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Pak Rasyid, sebentar lagi giliran Bapak naik ke panggung,” kata Nisa, panitia muda yang cekatan, sambil tersenyum ramah.
Rasyid mengangguk pelan. “Iya, Nak. Terima kasih.”
Di balik tepuk tangan dan sorot mata kagum warga, hati Rasyid justru terasa kosong. Ia bahagia—ya, tentu saja. Siapa yang tak bahagia dihargai oleh lingkungan sendiri? Namun di sela kebahagiaan itu, ada sedih yang mengendap, seperti kopi pahit di dasar cangkir.
Pikirannya melayang pada Salma, istrinya yang telah meninggal tujuh tahun lalu. Perempuan sederhana yang selalu duduk di barisan depan setiap kali Rasyid diminta berbicara di acara kampung. Salma tak pernah pandai memuji, tapi tatapan matanya selalu berkata, aku bangga padamu.
“Seandainya kamu masih di sini, Ma,” gumam Rasyid pelan.
Ketika namanya dipanggil, Rasyid melangkah ke panggung. Tepuk tangan membahana. Ia berdiri tegak, menerima piagam dan selempang. Kamera ponsel mengarah padanya dari segala penjuru. Semua ingin mengabadikan momen itu.
“Bapak Rasyid, silakan beri sambutan singkat,” ujar pembawa acara.
Rasyid menarik napas. Pandangannya menyapu wajah-wajah yang ia kenal sejak kecil. Ada yang dulu berjalan bersamanya di pematang sawah, ada yang pernah ia tolong saat kesulitan, dan ada pula yang dulu sempat memusuhinya karena perbedaan pendapat.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucapnya, suaranya tenang.
“Terima kasih atas penghargaan ini. Sejujurnya, saya merasa belum pantas. Jika hari ini saya berdiri di sini, itu bukan karena saya hebat, tetapi karena saya dikelilingi oleh orang-orang baik.”
Ia berhenti sejenak. Tenggorokannya terasa berat.
“Namun izinkan saya jujur,” lanjutnya. “Di balik kebahagiaan ini, ada kesedihan. Karena orang yang paling ingin saya lihat tersenyum hari ini, justru tidak ada di sini.”
Beberapa orang saling berpandangan. Ada yang mulai memahami.
“Istri saya,” kata Rasyid lirih, “pernah berkata, kebahagiaan sejati bukan saat kita dipuji, tapi saat kita bermanfaat, meski tak diingat.”
Rasyid tersenyum, namun matanya basah.
“Saya belajar dari hidup, bahwa bahagia dan sedih sering berjalan beriringan. Dan mungkin, di situlah letak keindahan hidup. Terima kasih.”
Tepuk tangan kembali terdengar, kali ini lebih pelan, lebih dalam. Nisa menyeka sudut matanya. Ia melihat Rasyid bukan sekadar tokoh teladan, melainkan manusia yang utuh—dengan luka dan ketegaran.
Malamnya, setelah acara usai dan kampung kembali sepi, Rasyid berjalan sendirian menuju makam Salma. Bulan menggantung pucat di langit. Ia duduk di samping pusara, meletakkan selempang di atas batu nisan.
“Ma,” katanya pelan, “hari ini aku bahagia.”
Angin malam berdesir pelan, seolah menjawab.
“Aku juga sedih,” lanjutnya. “Tapi mungkin, inilah hidup yang kau maksud dulu. Bahagia yang tidak berisik, sedih yang tidak mematahkan.”
Rasyid tersenyum lagi—senyum yang kali ini jujur, utuh, dan pasrah. Di ujung senja hidupnya, ia akhirnya mengerti: kebahagiaan tidak pernah datang sendirian. Ia selalu membawa sepotong kesedihan, agar manusia tetap rendah hati dan ingat jalan pulang.
| Editor : Koni Setiadi