Adhyaksanews. -- -- Wamena, 5 Juni 2025. Di tengah krisis pasokan beras yang melanda Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, tokoh masyarakat setempat, Elius Passe, menyerukan agar masyarakat Papua kembali mengandalkan kebun tradisional dan hasil pangan lokal sebagai sumber utama kehidupan.
Menurut Elius, masyarakat Papua, khususnya di Yahukimo, secara turun-temurun telah hidup dari hasil kebun, bukan dari beras. Ia menekankan bahwa keluhan terhadap kelangkaan beras justru mencerminkan pola pikir konsumtif dan ketergantungan terhadap bantuan pemerintah.
“Makan makanan dari hasil kebun sendiri tidak akan membuat kita mati. Justru itu menjamin kesehatan dan kelangsungan hidup lebih baik daripada makanan olahan pabrik yang penuh bahan kimia dan pengawet,” ujar Elius dalam pernyataannya.
Elius menyoroti bahwa tuntutan bantuan beras dari pemerintah oleh sebagian warga menunjukkan hilangnya semangat kemandirian. Ia mengingatkan bahwa masyarakat Yahukimo secara historis tidak memiliki lahan sawah, tetapi justru dianugerahi lahan kebun yang luas dan subur, yang diwariskan secara turun-temurun.
“Setiap orang Papua memiliki lahan kebun. Kita punya ubi, singkong, keladi, pisang semuanya bisa menopang hidup sehat. Jangan kita jadi pemalas yang hanya menuntut beras,” tegasnya.
Lebih lanjut, Elius meminta pemerintah daerah untuk tidak menyerah pada tekanan kelompok tertentu yang mengeluhkan kekurangan beras. Ia menekankan bahwa visi pemerintah daerah sudah sangat jelas: “Yahukimo Sehat, Yahukimo Cerdas, Yahukimo Mandiri, dan Yahukimo Sejahtera.”
Menurutnya, kekurangan stok beras di ibu kota Dekai bukanlah kegagalan, melainkan bagian dari strategi untuk mendorong kemandirian masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan sendiri.
“Ini ujian siapa yang rajin berkebun dan siapa yang hanya duduk menunggu bantuan. Orang yang rajin berkebun tetap makan, sementara yang malas teriak minta beras,” ujarnya.
Elius juga menyampaikan bahwa dari segi nilai gizi, bahan pangan lokal seperti ubi rambat memiliki kandungan karbohidrat yang setara dengan beras. Karena itu, masyarakat diminta untuk tidak memandang rendah pangan lokal hanya karena terbiasa dengan produk luar.
Seruan ini menjadi tamparan keras bagi sebagian masyarakat yang masih bergantung penuh pada bantuan pemerintah. Di sisi lain, pesan ini juga menjadi ajakan untuk bangkit dan kembali pada potensi lokal yang telah terbukti menopang kehidupan masyarakat Papua selama ratusan tahun.
Sumber : Pernyataan Elius Passe, Wamena 5 Juni 2025.
Penulis : Marinus Heluka | Editor : Tya