Minggu, 23 Agustus 2026

Bukan Cuma Hura-hura Seremoni, Camat Toianas Yustinus Lopsau Tampar Kesadaran Publik Di HUT RI Ke-81

Adhyaksanews. -- --[SOE-NTT],  Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026 tak boleh berjalan bak ritual usang yang kehilangan taji. Momentum sejarah ini bukan panggung pesta pora hampa makna, melainkan cambuk tajam yang menagih bukti pengabdian nyata seluruh elemen bangsa.

Di balik kekhidmatan tata urutan upacara di Lapangan Kecamatan Toianas, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur yang dipandu oleh jajaran Kepolisian Sektor Amanatun Utara (Aipda Maksi Eduard Lay selaku Perwira Upacara dan Aipda Dany Defritis Ninu sebagai Komandan Upacara) suasana mengheningkan cipta berubah menjadi panggung pembuktian nurani birokrasi.

Menolak terjebak dalam romantisme sejarah yang meninabobokan, Camat Toianas selaku Inspektur Upacara, Yustinus Lopsau, S.Tp., melontarkan pesan menohok saat memimpin jalannya prosesi kenegaraan tersebut. Ia menegaskan bahwa merdeka yang sejati adalah soal pelayanan publik yang bersih dan persatuan yang tak bisa ditawar-tawar.

"Kemerdekaan bukan sekadar perayaan, tetapi merupakan amanah bagi kita semua untuk terus mengabdi, menjaga kerukunan, memperkuat persatuan, dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat!" tegas Yustinus dengan nada berapi-api di hadapan peserta upacara.

Yustinus menelanjangi realitas zaman yang kian bergeser. Musuh hari ini tak lagi memegang senapan atau berdarah asing, melainkan ketimpangan sosial, kemalasan bertindak, dan ego sektoral yang mengancam retaknya kebhinekaan.

Perjuangan hari ini bukan lagi mengangkat senjata melawan penjajahan. Perjuangan kita adalah menjaga persatuan, merawat kerukunan, memperkuat kebersamaan, dan memberikan kontribusi terbaik sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing,” ujarnya tajam.

Pesan keras sang Camat bergema di tengah barisan yang dikawal oleh pengibaran bendera presisi dari siswa SMAN Oele’u Melfiano Ahosferos Nipu, Nona Novrianti Nome, dan Hunoben Sae serta lantunan lagu perjuangan dari paduan suara SMAN Bokong. Bagi Yustinus, perbedaan di tengah masyarakat Toianas bukanlah alasan untuk saling sikut, melainkan fondasi beton untuk membangun daerah. Ia memastikan jajaran Kecamatan Toianas tidak akan membiarkan birokrasi bekerja lambat dalam melayani rakyat.

“Di momentum HUT RI ke-81 ini, mari kita jadikan semangat kemerdekaan sebagai energi untuk terus berkarya dan mengabdi. Jangan biarkan kemerdekaan hanya menjadi slogan kosong, tetapi mari kita buktikan melalui tindakan nyata!” bentaknya memutus kepasifan.

Sebelum pembacaan doa oleh Pendeta Herlina Imelda Lasitae Mau, S.Th dan penutupan upacara oleh pembawa acara Bagian Protokol Setda TTS, Yustinus menutup seruannya dengan menggedor pintu hati warga Toianas agar membakar kembali tradisi gotong royong yang kian terkikis zaman. Tanpa persatuan dan kerukunan, narasi besar kemerdekaan hanyalah cerita rekaan tanpa dampak nyata bagi kesejahteraan rakyat di daerah. (Jurnalis Roy S) 

| Editor : Koni Setiadi