Adhyaksanews. -- --[ Kokbaun, Nusa Tenggara Timur ], Adhyaksanews - Bagi sebagian besar masyarakat modern, listrik adalah fasilitas harian yang bisa dinikmati setiap detik tanpa perlu berpikir panjang. Namun, kenyataan pahit justru harus ditelan mentah-mentah oleh 19 kepala keluarga (KK) di Kecamatan Kokbaun, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Selama tiga tahun lamanya, mereka terpaksa hidup berdampingan dengan kegelapan dan ketidakpastian yang menyesakkan dada. Uang hasil jerih payah warga sudah melayang sejak tahun 2023 demi mendambakan secercah terang di rumah-rumah sederhana mereka, tetapi meteran listrik yang diidam-idamkan tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.
Asa yang nyaris padam dan hampir menguap menjadi keputusasaan itu akhirnya mendadak menyala kembali lewat sebuah ruang mediasi yang sarat kehangatan di Kantor Kecamatan Kokbaun, Rabu (14/10/2026). Pertemuan ini jauh dari kesan birokrasi yang kaku; ia menjelma menjadi panggung kepedulian nyata yang digawangi langsung oleh Camat Kokbaun, Andy Kalumbang, bersama Bhabinkamtibmas Aipda Yopi Lasa.
Suasana sempat berada di titik didih ketika warga yang telanjur geram dipertemukan secara langsung dengan pihak vendor dari CV penerima dana. Keterlambatan proyek serta deretan janji manis yang selama ini hanya menjadi angin lalu membuat emosi warga berada di ujung tanduk. Di sinilah integritas dan kepiawaian seorang pemimpin sejati diuji. Camat Andy Kalumbang dan Aipda Yopi Lasa hadir sebagai jembatan penyelamat. Berbekal kepala dingin, tutur kata yang menenangkan, serta pendekatan persuasif yang humanis, keduanya berhasil meredam amarah massa dan mendudukkan semua pihak dalam satu meja dialog yang konstruktif.
Puncak ketegangan mendadak mencair tatkala Camat Andy Kalumbang mengambil langkah taktis yang di luar dugaan. Di tengah-tengah jalannya mediasi, tanpa ragu ia merogoh ponsel dari saku bajunya dan menghubungi langsung sang General Manager PLN. Seketika itu juga, ruangan yang tadinya riuh oleh keluh kesah berubah senyap. Puluhan pasang mata menatap sang camat, menyimak setiap diksi yang terucap dari percakapan penting tersebut demi memperjuangkan nasib warga yang sudah bertahun-tahun merindukan cahaya.
Buah dari komunikasi langsung tersebut berhasil menghadirkan angin segar bagi seluruh warga yang hadir. Langkah taktis ini membuka ruang koordinasi yang jauh lebih pasti untuk mengurai benang kusut yang selama ini buntu. Kendati demikian, sang camat tetap menunjukkan kebijaksanaannya dengan mengingatkan warganya agar tetap tenang, menjaga kesabaran, serta mengiringi setiap ikhtiar ini dengan doa. Sebab, bagaimanapun juga, perjuangan belum benar-benar tuntas sebelum meteran listrik itu terpasang kokoh dan menyala di dinding rumah mereka masing-masing.
Sentuhan kepedulian yang tulus dari duo pemimpin ini meninggalkan jejak emosional yang sangat mendalam di sanubari masyarakat Kokbaun. Warga tak henti-hentinya meluapkan rasa syukur dan menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Camat Andy Kalumbang dan Aipda Yopi Lasa, yang terbukti konsisten hadir sebagai pelindung sekaligus pelayan rakyat sejati.
Bahkan, rasa cinta dan kekaguman warga kepada sang camat terukir dari sebuah harapan polos yang sarat makna: mereka amat mendambakan agar Andy Kalumbang bisa terus memimpin dan mengabdi di Kokbaun hingga masa purna bakti tiba. Sebuah bentuk pengakuan jujur dari lubuk hati rakyat kecil yang merasakan bahwa pemimpin mereka benar-benar bekerja dengan hati nurani.
Bagi warga Kokbaun, kehadiran listrik kelak bukan sekadar lampu yang menghalau gulita malam. Listrik adalah napas baru bagi anak-anak mereka agar bisa belajar dengan layak tanpa harus bergantung pada pelita minyak tanah, menjadi penopang aktivitas dapur yang lebih manusiawi, sekaligus menjadi pintu gerbang utama untuk menggerakkan roda ekonomi rumah tangga yang selama bertahun-tahun terpasung dalam kegelapan.
Kini, api harapan itu telah kembali berkobar, dinyalakan oleh ketulusan, kecepatan, serta kepedulian nyata dari seorang camat dan aparat kepolisian yang benar-benar berpihak pada rakyatnya.
Jurnalis: Roy S
| Editor : Koni Setiadi