Adhyaksanews. -- -- Desa Atep Oki kini menjadi sorotan publik setelah jembatan gereja GPDI yang vital bagi komunitas setempat dibongkar tanpa ada tanda-tanda perbaikan. Sejumlah warga yang ditemui oleh awak media membeberkan keluhan mereka, menegaskan bahwa kondisi ini telah menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat. “Jembatan itu sangat penting bagi kami, dan sampai sekarang belum ada tindakan perbaikan,” ungkap beberapa anggota gereja Pantekosta yang enggan disebutkan namanya.

Aksi tersebut menambah daftar panjang masalah infrastruktur yang tengah dihadapi oleh desa tersebut. Dalam konteks ini, warga juga mempertanyakan proses pelaksanaan proyek pembangunan drainase senilai Rp 32.833.000 yang terancam molor, meskipun anggaran tersebut telah direncanakan untuk tahun 2025.
Kepala Desa Atep Oki, Jeril Lompoliu, saat dihubungi oleh wartawan, memastikan bahwa pekerjaan drainase tersebut akan diselesaikan dalam waktu dekat. “Insya Allah, semuanya akan rampung hari Selasa. Namun, ada tantangan tersendiri, karena saat kami mengajak masyarakat untuk kerja bakti, mereka enggan berpartisipasi,” jelasnya. Senin 23/06/2025
Di sisi lain, anggota gereja Pantekosta bersikeras untuk mengambil langkah tegas. Mereka berencana melaporkan ketidakpuasan terhadap proyek yang menggunakan dana desa tersebut kepada pihak berwenang. “Kami tidak bisa tinggal diam begitu saja. Kami akan memperjuangkan hak kami dan memastikan pembangunan ini dijalankan dengan semestinya,” tegas beberapa anggota gereja. 20/06/2025

Ketegangan ini menggambarkan sebuah ironi di tengah harapan masyarakat untuk peningkatan infrastruktur. Apakah Kepala Desa Jeril Lompoliu mampu memenuhi janjinya dan meredakan ketidakpuasan warga? Ataukah suara masyarakat akan semakin lantang menuntut keadilan? Hanya waktu yang akan menjawab. Mari kita tunggu perkembangan selanjutnya!
Penulis : Aril Moningka | Editor : Tya