Selasa, 21 April 2026

Hanya Dengan Bantuan 12 Ekor Kambing Kelompok “Ponjen Tani” Desa Bomerto Wonosobo Kini Sukses.

Adhyaksanews. -- -- WONOSOBO. Patut diacungi jempol Kelompok “Pokjen Tani” Desa Bomerto Wonosobo karena sarat dengan prestasi dalam mengembangkan ternak kambing. Hanya ditempuh 20 menit dari pusat kota, desa Bomerto Kecamatan Wonosobo ini memang tidak sedikit menorehkan prestasi dibidang pertanian dan peternakan. Dibidang pertanian desa ini mempunyai laboratorium kecil berupa Green House Modern yang dikelola kelompok tani, sedangkan untuk bidang peternakan terdapat pengembangan ternak kambing Dombos yang dikelola kelompok “Ponjen Tani”.

Pak Marko begitu panggilannya sebagai Ketua Kelompok “Ponjen Tani” dibantu Pondok sebagai Sekretaris dan Muslih sebagai Bendahara boleh bangga karena kelompok tani ini mengelola peternakan domba sejak tahun 2018 berawal dari bantuan 12 ekor kambing jenis “Dombos” dari Pemerintah Kabupaten Wonosobo yang sekarang sudah mencapai jumlah 120 ekor.


Ukuran kandang kambing 20m x 30m berdiri diatas tanah kurang lebih 1.000 m2 ini terletak di tengah perkebunan, di dalam  kandang dibagi beberapa petak berukuran 2m x 2m untuk pembibitan dan penggemukan serta petak khusus untuk mencukur bulu domba. Dimana setiap petak berisi 2 sampai 4 kambing. Dibagian lain, sudah dipersiapkan lahan seluas 500m2 yang disewa 2 juta rupiah per bulan , kedepan disiapkan untuk pengembangan usaha ternak sapi.

Marko selaku ketua Kelompok “Ponjen Tani” sembari mengantar awak media berkeliling kandang menjelaskan,” Sekarang anggota kelompok ini sudah mencapai 25 orang berkembang berkat kerjasama dan pengelolaan menejemen berazaskan kekeluargaan. Salah satunya dengan menerapkan setiap anggota setiap harinya diwajibkan mengumpulkan rumput sebanyak 50 kg sebagai stok pakan ternak. Prinsip beramal dari Baznas dengan nilai ibadahnya alhamdullilah juga kami terapkan kepada anggota, agar kelompok ternak kami ini dapat berkurban 5 ekor kambing setiap tahunnya.”

Pada umumnya kambing domba mempunyai bulu gimbal, berbeda Dombos bulunya lebih lembut, keriting dan tidak gimbal. Selain bulu domba laku dijual produk tambahan lainnya adalah pupuk kandang / organik dari limbah kotoran kambing  yang dikemas dalam plastik 25 kilogram dipatok harga 20 ribu rupiah per zak. Terbukti dapat memberikan tambahan pendapatan pada rumah tangga petani dan limbahnya dapat mendukung budidaya pertanian.

Dari berbagai sumber pustaka, kambing Dombos kependekan dari Domba Wonosobo ini pemberian nama dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat berkunjung ke Wonosobo pada tahun 2006 silam. Tepatnya pada tanggal 9 Maret 2006 Presiden RI mencanangkan domba ini dengan nama Domba Wonosobo Texel atau disebut Dombos, kemudian pada tahun 2011 melalui SK Menteri Pertanian No 2915/kpts/OT.140/6/2011 ditetapkan sebagai Sumber Daya Genetik Ternak Lokal Indonesia. 

Dombos memiliki beberapa ciri fisik yang khas yaitu kepalanya memiliki profil lebar dan lurus jika dilihat dari samping, sedangkan dari depan tampak sempit memanjang dengan tulang menonjol. Domba ini terkenal dengan keistimewaan dan potensinya yang tinggi, menjadikannya aset berharga bagi peternakan di Wonosobo dan sekitarnya.

Dikutip dari laman Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Wonosobo Domba Wonosobo merupakan hasil persilangan antara Domba Leicester Longwool dan Domba Lincoln dengan domba lokal Belanda. Domba ini masuk ke Indonesia sejak tahun 1955.

“Pada tahun 2024 Kelompok “Ponjen Tani” mendapat bantuan dari Baznas (Badan Amil Zakat Nasional) senilai 500 juta rupiah, akan kami gunakan untuk pembelian kambing lagi terdiri dari 57 ekor untuk indukan dan yang 80 ekor untuk penggemukan akan kami pasarkan nanti pada saat menjelang Idul Adha, sebagai konsumsi hewan korban,” tandas Marko.


Ditanya mengenai pemasaran ternak kambingnya Marko yang berpenampilan sederhana dan menguasai masalah ternak kambing ini menjelaskan, “Pemasaran sejak tahun 2018 tidak ada kendala bahkan permintaan konsumsi daging kambing terus meningkat. Selama ini sudah ada pelanggan dari rumah makan, restoran, cafe dan pedagang pasar. Apalagi menyambut hari raya qurban, permintaan meningkat cukup banyak dan sudah kami persiapkan pembibitannya sejak lama.”

“Kerja keras kami selama ini menjadikan Poktan “Ponjen Tani” sekarang sudah dirasa membuahkan hasil. Kami akan terus mengembangkan ternak Dombos serta  mempersiapkan pengelolaan ternak sapi, ini semua tidak lepas dari pembinaan dan bimbingan PPL Dinas terkait, Kades, Camat serta monitoring dan evaluasi dari Baznas Kabupaten Wonosobo,” ungkapnya mengakhiri.

Penulis : WP | Editor : Tya