Selasa, 02 Juni 2026

Selebgram Jihan Keluhkan Maraknya Oknum Pungli Di Jalur Wisata Pemandian Sidebu - Debu

Karo Sumut,  Adhyaksanews. -- --Dugaan pungutan liar mencuat di jalur wisata Pemandian Sidebu Debu menuju Pariban, Kabupaten Karo. Selebgram Instagram @jihaanfzh mengaku dirinya bersama 4 anggota keluarganya menjadi korban saat libur panjang.

Menurut video yang diunggah @jihaanfzh, rombongan yang berjumlah 5 orang itu mengalami 2 kali pencegatan oleh oknum berbeda. Setiap pencegatan, masing-masing orang dimintai uang Rp10.000 tanpa karcis atau bukti pembayaran. Total uang yang diminta mencapai Rp100.000 untuk sekali jalan.

"Kecewa, manfaatin libur panjang sama keluarga" 

Jihan mengaku kecewa karena momen liburan keluarga jadi terganggu. Ia menilai oknum sengaja mengambil kesempatan saat wisatawan Karo lagi ramai.

"Kita berlima, saya sama 4 keluarga. Udah bayar tiket masuk Sidebu Debu di loket. Pas mau ke Pariban dicegat, bayar 10 ribu/orang. Jalan dikit dicegat lagi orang beda, bayar 10 ribu/orang lagi. Nggak ada seragam, nggak ada karcis. Kecewa banget, mereka manfaatin momen libur panjang pas bawa keluarga wisata," ujar @jihaanfzh dalam InstaStory-nya.

Tokoh Pemuda Desak Pemkab Karo Bertindak 

Menanggapi viralnya video tersebut, *DR(C). Andi, S.Kom., S.H., M.M., CPM., CPLA., CPLO selaku Tokoh Pemuda Kabupaten Karo* meminta pemerintah setempat segera menertibkan praktik serupa.

"Ini sangat merugikan masyarakat dan mencoreng nama baik wisata Karo. Jangan jadikan libur panjang sebagai ajang kesempatan bagi oknum untuk melakukan pungli. Pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata Kabupaten Karo harus segera turun, pasang plang resmi, tertibkan petugas, dan tindak tegas oknum yang tidak bertanggung jawab. Wisatawan harus merasa aman dan nyaman," tegasnya.

Tunggu Klarifikasi Dispar Karo

Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola Pemandian Sidebu Debu dan *Dinas Pariwisata Kabupaten Karo* belum memberikan klarifikasi resmi terkait legalitas "retribusi jalur Pariban".

Warga berharap Dispar Karo segera menertibkan. "Kalau ada retribusi resmi harus transparan: ada plang, karcis, petugas jelas. Kalau nggak ada, ini pungli. Jangan sampai wisatawan kapok ke Karo gara-gara oknum," ujar pedagang setempat. (red)

| Editor : Koni Setiadi