Sumbar, Adhyaksanews. -- --*Suasana penuh kehangatan dan keteduhan menyelimuti Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Barat saat berlangsungnya pertemuan silaturahmi antara Teuku Husaini dengan Ketua MUI Sumbar, Buya Dr. Gusrizal Gazahar, Lc, M.Ag. Pertemuan tersebut bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan menjadi momentum bermakna yang sarat nilai keislaman, kebijaksanaan, serta refleksi kebangsaan di tengah dinamika kehidupan umat saat ini.
Teuku Husaini hadir dengan niat tulus untuk bersilaturahmi sekaligus menimba ilmu dan pandangan keagamaan dari sosok ulama kharismatik yang dikenal luas akan keluasan ilmu, keteguhan prinsip, serta konsistensinya dalam menjaga marwah umat Islam. Buya Dr. Gusrizal Gazahar menyambut dengan penuh keakraban, senyum ramah, dan sikap rendah hati yang selama ini melekat pada pribadi beliau. Pertemuan berlangsung sederhana, namun kaya makna dan jauh dari kesan formalitas yang kaku.
Silaturahmi ini mencerminkan betapa tradisi pertemuan antarulama, tokoh masyarakat, dan insan pers tetap relevan dan dibutuhkan. Di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap memunculkan kegaduhan, dialog langsung yang dilandasi adab dan keikhlasan menjadi oase penyejuk bagi kehidupan sosial dan keumatan.
Dalam perbincangan yang berlangsung hangat, Buya Gusrizal menegaskan kembali pentingnya silaturahmi sebagai salah satu ajaran utama dalam Islam. Menurut beliau, silaturahmi tidak hanya memperpanjang umur dan melapangkan rezeki sebagaimana sabda Rasulullah SAW, tetapi juga memperkuat ukhuwah Islamiyah, membuka pintu kebaikan, serta menjadi sarana saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
“Silaturahmi itu bukan sekadar bertemu secara fisik, tetapi menyambung hati, menyamakan niat, dan memperkuat komitmen untuk kebaikan bersama,” ujar Buya Gusrizal dalam suasana dialog yang penuh ketenangan.
Teuku Husaini menyampaikan apresiasi dan rasa hormat atas peran besar MUI Sumbar di bawah kepemimpinan Buya Gusrizal dalam menjaga harmoni umat, mengawal akidah, serta memberikan panduan moral bagi masyarakat. Menurutnya, MUI Sumbar telah menunjukkan konsistensi sebagai rumah besar umat, tempat bertanya dan mencari solusi atas berbagai persoalan keagamaan dan sosial kemasyarakatan.
Ia menilai, di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, peran ulama menjadi sangat strategis. Ulama tidak hanya sebagai pemberi fatwa, tetapi juga sebagai penyejuk umat, penjaga persatuan, dan penuntun moral bangsa. Oleh karena itu, komunikasi dan silaturahmi antara ulama dan insan pers menjadi sangat penting agar pesan-pesan keagamaan dapat tersampaikan secara utuh dan bertanggung jawab kepada publik.
Buya Gusrizal dalam kesempatan itu juga menekankan pentingnya menjaga persatuan dan menghindari perpecahan. Menurut beliau, perbedaan pandangan adalah keniscayaan dalam kehidupan bermasyarakat, namun tidak boleh disikapi dengan emosi dan prasangka. Islam mengajarkan musyawarah, adab berdialog, dan menjunjung tinggi nilai persaudaraan.
“Umat ini akan kuat jika bersatu. Jangan mudah terprovokasi oleh informasi yang belum tentu benar. Kita harus tabayyun dan mengedepankan akal sehat serta hati nurani,” tegas Buya Gusrizal.
Pembahasan kemudian mengalir pada peran media di era digital. Buya Gusrizal memberikan perhatian khusus pada pentingnya jurnalisme yang beretika, berimbang, dan berpihak pada kebenaran. Media, menurut beliau, memiliki kekuatan besar dalam membentuk opini publik. Oleh karena itu, insan pers harus menjunjung tinggi nilai kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab moral.
“Media bukan sekadar menyampaikan berita, tetapi juga mendidik masyarakat. Jika media sehat, insya Allah masyarakat juga akan sehat,” ungkapnya.
Teuku Husaini sependapat dengan pandangan tersebut. Sebagai insan pers, ia menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan karya jurnalistik yang faktual, berimbang, dan berorientasi pada kemaslahatan umat. Ia menyadari bahwa tantangan terbesar media saat ini adalah menjaga integritas di tengah persaingan kecepatan informasi dan tekanan berbagai kepentingan.
Menurut Teuku Husaini, nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal Minangkabau, seperti falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah,” harus tetap menjadi pijakan dalam kerja jurnalistik. Media harus menjadi bagian dari solusi, bukan justru memperkeruh keadaan.
Silaturahmi tersebut juga menyinggung peran generasi muda dalam menjaga nilai-nilai agama dan kebangsaan. Buya Gusrizal menekankan pentingnya pendidikan karakter dan akhlak mulia sejak dini. Ia mengingatkan bahwa kecerdasan intelektual tanpa akhlak yang baik dapat membawa pada kerusakan.
“Generasi muda harus dibekali iman, ilmu, dan adab. Mereka harus diajarkan untuk mencintai agama dan tanah air, serta bijak dalam menyikapi perbedaan,” ujar Buya Gusrizal.
Dalam konteks Sumatera Barat, Buya Gusrizal menegaskan bahwa daerah ini memiliki sejarah panjang sebagai pusat peradaban Islam yang berpadu harmonis dengan adat Minangkabau. Nilai-nilai tersebut harus terus dirawat dan diwariskan agar tidak tergerus oleh budaya instan yang bertentangan dengan jati diri bangsa.
Teuku Husaini menyambut pandangan tersebut dengan penuh perhatian. Ia menilai bahwa silaturahmi lintas generasi dan lintas profesi menjadi kunci untuk menjaga kesinambungan nilai dan tradisi. Pertemuan dengan tokoh-tokoh ulama seperti Buya Gusrizal menjadi sumber inspirasi dan penguatan moral dalam menjalankan peran sosial masing-masing.
Pertemuan silaturahmi ini ditutup dengan doa dan harapan agar hubungan baik antara ulama, insan pers, dan masyarakat terus terjalin. Keduanya sepakat bahwa komunikasi yang baik, niat yang lurus, serta komitmen pada kebenaran adalah fondasi utama dalam membangun umat dan bangsa yang bermartabat.
Silaturahmi Teuku Husaini dengan Buya Dr. Gusrizal Gazahar di Kantor MUI Sumbar menjadi gambaran indah tentang bagaimana pertemuan sederhana dapat melahirkan energi positif, memperkuat ukhuwah, serta meneguhkan komitmen bersama untuk menjaga nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan.
Di tengah hiruk-pikuk dunia yang sering kali bising oleh kepentingan dan perbedaan, pertemuan ini menjadi pengingat bahwa dialog yang jujur, santun, dan berlandaskan keikhlasan selalu menemukan jalannya menuju kebaikan. Silaturahmi bukan hanya tradisi, tetapi kebutuhan spiritual dan sosial yang harus terus dirawat demi masa depan umat dan bangsa.(*)
| Editor : Koni Setiadi