Adhyaksanews. -- -- Minahasa || Tondano Selatan, Kabupaten Minahasa - Dalam dunia perdagangan yang kian kompetitif, terungkap permasalahan serius yang menyelimuti Pasar Souvenir Tataaran Patar. Setiap tahun, puluhan pedagang di pasar ini dipaksa mengeluarkan dana hingga Rp 4.000.000 kepada Koperasi Tondano Inda. Namun muncul pertanyaan, apa sebenarnya yang mereka dapatkan sebagai balasan dari biaya yang terbilang tinggi ini?
Kenyataan di lapangan singkat namun mencemaskan. Kios yang mereka sewa tak pernah mendapatkan perawatan yang layak, bahkan terlihat menyedihkan dan tidak terawat. "Kami membayar mahal, tetapi dukungan yang kami harapkan tidak pernah datang," ungkap beberapa pedagang yang enggan disebutkan namanya, dengan nada penuh harap akan perubahan.

Awak media menghubungi Kepala Dinas Koperasi lewat telepon seluler akan tetapi tidak ada respons, pada Jumat 25/04/ 2025 pun menemui jalan buntu, tanpa ada komentar yang diterima dari pihak terkait. Keheningan ini semakin menjadikan para pedagang merasa terabaikan dan tidak diperhatikan.
Dalam pantauan media, kondisi pasar yang seharusnya menjadi magnet bagi para wisatawan ini justru terlihat seperti padang rerumputan yang terlantar. Kios-kios tempat mereka semakin terancam keberadaannya. Para penyewa kios mengeluhkan sikap koperasi yang hanya muncul ketika menagih biaya sewa, sedangkan untuk memperbaiki kondisi pasar, tindakan konkret tak kunjung terlihat.
Kondisi ini jelas memprihatinkan. Pasar yang seharusnya menjadi jantung perekonomian lokal semakin menurun, dan pedagang pun terjebak dalam keadaan yang tak menentu. Apakah Koperasi Tondano Inda akan bangkit untuk memperbaiki citra pasar yang tercoreng ini, ataukah para pedagang harus menanggung beban sendirian dalam diam?

Situasi ini menuntut perhatian serius dari pihak berwenang dan masyarakat. Suara pedagang kecil ini harus didengar, sehingga harapan akan revitalisasi Pasar Souvenir Tataaran Patar tidak hanya tinggal mimpi di siang bolong. Masyarakat, apakah kita akan terus membiarkan kondisi ini berlarut-larut, atau saatnya bergerak untuk perubahan?
Penulis : SArel Moningka | Editor : Tya