Selasa, 09 Juni 2026

Tajamnya Paradoks Tata Kelola: Konflik Tanah Tanjung Mariri Jadi Cermin Arogansi Kekuasaan Lokal”

Adhyaksanews. -- -- BOLAANG MONGONDOW —** Dalam arsitektur tata kelola pemerintahan desa yang seharusnya berorientasi pada supremasi hukum dan integritas pelayanan publik, **Desa Tanjung Mariri, Kecamatan Poigar, kini menjadi episentrum kegaduhan hukum dan sosial**.

Sebuah **konflik agraria bereskalasi** setelah **Keluarga Besar Ratu** melayangkan **somasi bernuansa ultimatum** kepada Sangadi Tanjung Mariri, yang **disebut nekat mengeksekusi pembangunan Balai Pertemuan Umum di atas lahan seluas 12 hektar** yang diklaim sebagai **tanah warisan sah**.

Somasi ini bukan sekadar wacana, melainkan **manifestasi perlawanan hukum yang berlandaskan putusan pengadilan**. Surat somasi diteken oleh **Feki Ratu**, mewakili ahli waris **Eren Ratu, Yeti Ratu, Deysi Ratu, Stenly Ratu, Yani, Feybi Ratu, dan Fanda Ratu**.

Mereka mengurai fakta bahwa **lahan dimaksud adalah warisan almarhum Sawu Ratu**, dengan **dokumen otentik berupa surat kesepakatan tahun 1974** serta **putusan Pengadilan Negeri Kotamobagu Nomor 89/Pdt.G/2013/PN Ktg tertanggal 16 Juli 2014**, yang **sudah inkracht dan tak terbantahkan**. 


Namun, **ironinya mencengangkan**. Meski supremasi hukum telah digariskan melalui putusan pengadilan, **Sangadi Tanjung Mariri disebut bersikeras menolak pengakuan bukti hukum** dan **memaksakan pembangunan fasilitas publik di atas lahan tersebut**. 

Sikap yang dituding sarat **arogansi kekuasaan lokal** ini memantik **amplifikasi kemarahan keluarga ahli waris**. 

**“Kami sudah berulang kali melakukan pencegahan dengan membawa bukti sah, tapi Kepala Desa tetap menolak. Apakah hukum di negeri ini hanya untuk ditertawakan?!”** tegas **Feki Ratu**, mengartikulasikan nada protes yang mengguncang ruang publik. 

Keluarga Ratu kemudian **menggugah kesadaran hukum** dengan menantang Sangadi agar **menempuh jalur litigasi, bukan praktik eksekusi sepihak**. Dalam narasi somasi yang dikirimkan, termaktub peringatan keras: **jika pembangunan dipaksakan, laporan pidana akan menjadi keniscayaan**. 

Tak berhenti di situ, **tembusan surat somasi mengalir ke jejaring institusi strategis**: **Bupati Bolaang Mongondow, Polres Bolmong, Kejari Kotamobagu, Ketua PN Kotamobagu, Camat Poigar, Kapolsek Poigar, Ketua BPN Bolmong, hingga DPRD Kabupaten Bolmong**. Sebuah sinyal bahwa perkara ini berpotensi **bergulir menjadi isu struktural dan politis**.

Dalam penutupnya, somasi ini mengandung pesan ultimatum: 

**“Hentikan pembangunan balai pertemuan umum di atas tanah kami, atau bersiaplah menghadapi konsekuensi hukum dan gejolak sosial yang tidak terhindarkan.”**

Kini, publik terperangah oleh sebuah **paradoks tata kelola desa**. **Bagaimana mungkin kepala desa menabrak putusan pengadilan yang telah sah dan final?** Pertanyaan yang menggema kini: **apakah supremasi hukum masih berdiri tegak di Bolaang Mongondow, atau sedang dilindas oleh euforia kekuasaan lokal yang tak terkendali?**

Penulis : Aril Moningka | Editor : Tya