Adhyaksanews. -- --Seorang siswa sekolah dasar berinisial ZH (10 tahun) asal salah satu desa di Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, menghembuskan napas terakhirnya di RSUD Bangka Selatan pada Minggu, 27 Juli 2025 Pagi. usai menjadi korban kekerasan/bullying oleh teman-temannya di lingkungan sekolah.
Tragedi bermula saat korban mengeluhkan kepada neneknya bahwa dirinya telah dipukul dan dikeroyok oleh sejumlah teman sekolah. ZH bahkan mengaku telah melaporkan insiden tersebut. Namun, justru tidak ada respons dari guru di sekolah.
Menurut penuturan keluarga, ZH mengalami muntah-muntah dan kehilangan kesadaran, hingga akhirnya harus dilarikan ke RSUD untuk menjalani perawatan intensif. Luka memar di perut dan kepala diduga menjadi penyebab utama kondisi kritis yang dialami.
“Kami rawat anak kami sejak hari Kamis, hingga Minggu saat ia meninggal, tak satu pun guru atau pihak sekolah yang datang menjenguk. Benar-benar menyakitkan,” ujar orang tua korban dengan suara bergetar saat diwawancarai Tim Pena. Minggu, 27 Juli 2025 Sore.
Mirisnya, di tengah masa-masa genting tersebut, tak ada perhatian dari pihak sekolah, baik dalam bentuk dukungan moral maupun kehadiran langsung di rumah sakit. Hal ini memicu kekecewaan mendalam dari pihak keluarga korban yang merasa terabaikan oleh institusi pendidikan.
Kematian tragis ini menjadi alarm (peringatan) bagi semua pihak, bahwa bullying bukan sekadar kenakalan biasa, melainkan ancaman serius yang dapat merenggut nyawa. Terlebih, lemahnya respons dari pihak sekolah memperparah luka yang dirasakan keluarga korban.
KEPSEK SDN 22 & IBU GURU WALI KELAS KORBAN AKUI SECARA TERBUKA TERANG-TERANGAN TANPA ADA BEBAN DAN SIKAP RASA PENYESALAN JIKA PIHAK SEKOLAH TIDAK ADA SATUPUN YANG DATANG HINGGA KORBAN ZH(10) MENGHEMBUSKAN NAFAS TERAKHIRNYA
____________________________________________
Mirisnya lagi, saat klarifikasi atau konfrensi pers yang di lakukan pihak dinas pendidikan Kabupaten Bangka Selatan, Yang di Hadiri Kepala Dinas Pendidikan Ansori, Sekretaris Dinas Komdigi Yuri, Kepala Sekolah SD Negeri 22 Desa Rias Toboali dan Juga dihadiri Wali Kelas V ( 5) yaitu wali kelas korban ZH (10),
Kepsek SDN 22 Rias Toboali dan Wali Kelas Korban ZH dalam keterangan langsung saat itu mengakui secara terang terangan dan terbuka tanpa jika dari pihak sekolah tidak ada yang menjenguk sampai ZH (10) Meninggal dunia di Rumah Sakit Junjung Besaoh tanpa ada rasa penyesalan dan Seperti tanpa beban.
" Ya, Benar, jika kami pihak sekolah tidak ada yang datang menjenguk murid kami ZH, dari mulai Kejadian hari pertama MPLS, sampai dirawat di Rumah Sakit lalu Sampai Siswa kami itu menghembuskan nafas terakhir" Ucap Kepsek SDN 22 dan Ucap Wali Kelas korban di waktu yang hampir bersamaan.
Kemudian Kepsek SD negeri 22 desa Rias Toboali dan ibu wali kelas korban tersebut menambahkan sedikit kata,
"Hanya itu yang kami sesalkan"
MULAI MENGABURKAN FAKTA SEBENARNYA
_____________________________________________
Namun, alih-alih menyuarakan kebenaran dan memberikan keadilan, sejumlah pihak justru terkesan menutupi fakta sebenarnya. Beragam pernyataan tidak sinkron dan narasi yang menggiring opini publik mencuat ke permukaan. Semua seolah diatur sedemikian rupa untuk melindungi pelaku dan menjaga nama baik institusi.
“Kami hanya ingin keadilan. Jangan sampai ada lagi anak-anak lain yang mengalami nasib seperti ZH. Guru seharusnya melindungi, bukan menutup mata ketika anak butuh pertolongan,” tegas orang tua korban.
Keluarga kini menggantungkan harapan pada Polres Bangka Selatan untuk mengungkap kejadian ini seterang-terangnya tanpa ada yang di tutup-tutupi, dan dengan rasa tanggung penuh jawab secara ilmiah dan profesional,
Kematian ZH bukan sekadar kasus, melainkan tamparan keras bagi dunia pendidikan, hukum, dan nurani kita semua, terutama di Kabupaten Bangka Selatan ini dimana baru baru ini mendapatkan perhargaan Kabupaten Layak Anak, pada kenyataannya itu jauh dari Kenyataan, dan sangat patut untuk pertanyakan penghargaan tersebut.
Penulis : KS | Editor : Koni Setiadi